RINGKASNYA

  • Jogjakarya menggelar diskusi terbuka soal lapangan kerja untuk anak muda Yogyakarta.
  • Peserta menyoroti jarak antara lulusan kampus dan kebutuhan usaha lokal.
  • Hasil diskusi dihimpun menjadi catatan kebijakan dan dibagikan ke publik.

Jogjakarya menggelar diskusi terbuka bertajuk “Jogja yang Menyekolahkan, Jogja yang Ditinggalkan” pada [hari, tanggal] di [lokasi]. Forum ini mempertemukan mahasiswa, pekerja muda, dan pelaku UMKM untuk membicarakan satu pertanyaan sederhana: kenapa banyak anak muda yang belajar di Jogja akhirnya memilih bekerja di kota lain?

Diskusi dibuka dengan cerita para peserta. Sebagian menyebut upah yang belum sebanding dengan biaya hidup, sebagian lain menyoroti minimnya informasi lowongan dari usaha-usaha lokal yang sebenarnya sedang mencari tenaga muda.

“Pulang ke Jogja harus jadi pilihan yang masuk akal, bukan sekadar pilihan perasaan.”

— [Nama Narasumber], [Jabatan]

Dari sisi pelaku usaha, persoalannya terbalik. Pemilik usaha kecil mengaku kesulitan menemukan tenaga yang siap bekerja, terutama untuk pekerjaan digital seperti pemasaran daring dan pengelolaan stok.

Baju lurik dan batik di kios UMKM Pasar Beringharjo
Ilustrasi: produk UMKM di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Indonesiagood / Wikimedia Commons, CC BY 3.0)

Jogjakarya mencatat seluruh masukan peserta. Catatan itu akan diolah menjadi ringkasan kebijakan yang dibagikan terbuka di website dan media sosial, sekaligus diserahkan kepada pemangku kepentingan terkait.

Diskusi serupa direncanakan berlanjut di [kabupaten/kota lain di DIY] dengan tema [tema berikutnya]. Warga yang ingin terlibat dapat mendaftar melalui [kanal pendaftaran].